Dia adalah pembohong handal, pintar menyembunyikan rasa dan memanipulasi keadaan. Dia selalu berkata pada dirinya sendiri "tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja", "sabar dan maafkan, ikhlaskan saja", "hari ini kamu hebat bisa melalui semuanya, esok juga begitu", banyak kalimat afirmasi lain yang selalu dia sebutkan untuk menenangkan dirinya sendiri.
Dia tidak pandai mengatakan apa yang dia rasakan, namun dia pandai pergi dan menghilang. Dia jatuh dan terluka berkali-kali namun selalu bangkit dan menegakkan kembali kepala yang sempat tertunduk lemas. Dia menangis dalam kegelapan dan kesesakan, namun dia mengusap air matanya dan kembali menarik nafas sedalam-dalamnya.
Sambil menggigit bibir dan mengernyitkan dahinya, dia bertanya "Kenapa aku yang harus mengalami ini?", "Bagaimana bisa aku diperlakukan seperti ini, ketika aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyakiti siapapun?", "Apakah perbuatanku selama ini salah?", "Siapa saja, apakah ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ku ini?".
Dia dan teka-teki kehidupannya yang misterius sudah berada di persimpangan jalan. Perjalanan yang sebelumnya hanya lurus-lurus saja sekarang membutuhkan arahan yang baru. Apakah harus ke kiri? Atau ke kanan saja? Hal-hal apa saja yang menantinya di setiap ujung jalan itu? Apakah aku akan bahagia atau justru menyesal nantinya? Apakah aku berhenti saja di persimpangan ini?
Saat ini dia tidak bisa berpikir rasional, banyak energi yang terkuras untuk dia bisa sampai di persimpangan jalan ini. Dia dan kebodohannya, dia yang dibutakan oleh kebaikan orang lain nyatanya hanya untuk dimanfaatkan saja. Dia dengan intuisinya yang kuat namun sering dia abaikan hanya untuk membuat keadaan terlihat baik-baik saja. Dia yang selalu memberikan yang terbaik namun sering tak dianggap ada keberadaannya. Dia dan egonya yang selalu dibelakangkan hanya untuk mendahului keinginan orang lain. Dia dan keberaniannya dalam mencari kebenaran namun sering tertutupi oleh ketakutan akan terluka.
Saat ini, di persimpangan jalan, dia mencoba menenangkan dirinya, mengikuti intuisinya dan membiarkan semua terjadi dan mengalir sebagaimana mestinya. Ini bukan lagi tentang cara memaafkan yang sudah terjadi namun tentang cara melepaskan dan mengikhlaskan segala sesuatu yang bukan ditakdirkan untuknya. Dia tidak menyerah namun berserah kepada Sang Pencipta sekaligus Sang Pemilik yang absolut.
Dia tidak akan lagi mencari ataupun mengejar pengakuan. Dia akan melepaskan apapun yang membuatnya terluka. Dia akan mengikhlaskan semua yang membuatnya kecewa. Dia tidak akan lagi terluka oleh harapan-harapan yang diberikan. Dia tidak akan lagi mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain. Dia akan membebaskan dirinya. Persimpangan jalan ini tidak lagi membuatnya takut, dia akan menutup mata sambil mengikuti kemana intuisinya berkata. Apapun yang ada di ujung jalan itu nantinya, dia berusaha siap dan akan menikmati setiap proses perjalanannya.
Ini bukan perihal ego, namun dia tahu kapan waktunya untuk berhenti dan pergi.

Akan selalu ada pilihan disetiap persimpangan, arah yang dituju atau malah kembali ke tempat semula. Semuanya mengenai kehidupan.
ReplyDeleteSetiap pilihan selalu ada konsekuensinya.
Delete