Skip to main content

INDUK SINGA

    

    "Inaaaa..." begitu panggilanku terhadapnya. Terdengar tidak sopan tapi aku hanya meniru mamanya memanggil dengan namanya. Ya dia mamaku, harusnya ku sebut dia dengan "mama" tapi kenyataannya tidak, aku malah memanggilnya dengan nama. Cerita ini baru saja aku ketahui, oleh karena itu sekali-kali aku memanggilnya dengan nama "Ina" hanya untuk menjahilinya.

   Dia sangat tegas mendidikku terkhususnya tentang pendidikan. Sangkin tegasnya aku sampai keringat dingin setiap kali bagi raport di sekolah. Aku lebih senang memilih nenek dibandingkan dia saat harus mengambil raport karena jika ada satu saja nilai yang turun, bisa-bisa aku akan diselidiki dengan ketat. Namun dibalik ketegasannya itu, dia selalu berusaha memenuhi kebutuhanku. Dia selalu memberikan yang terbaik karena dia tau anaknya yang satu ini sangat pemilih dan cerewet.

   Air mata dan keringat menemaninya saat itu, semua pekerjaan dia lakukan demi mengumpulkan uang-uang receh. Dia berperan ganda. Meskipun begitu, aku sangat senang melihat dan menemani dia berproses untuk bangkit. Di tengah keramaian manusia hanya mamanya saja yang memandang dan mendukungnya. Setidaknya ada tempat untuk dia bersandar dan mengadu. Lalu peranku? Yah saat itu aku hanya berperan sebagai anak kecil yang menikmati masa-masa bermain dan membuat mamanya emosi karena kadang sulit untuk diatur. Hanya itu.

  Terkadang ada masanya aku mulai memberontak, menyalahkan keadaan dan merasa tidak utuh. Namun seiringnya waktu, perlahan aku mulai bisa memahami semua hal yang telah terjadi dan aku bersyukur. Sehingga aku menemukan titik memahami mungkin dia bukan sosok mama yang sempurna, bukan pula sosok mama yang menggunakan gaya strawberry parenting seperti jaman sekarang.

  Dia adalah mama yang ku juluki dengan sebutan induk singa. Mungkin dari luar dia tampak seram, namun seperti induk singa dia berusaha keras untuk melindungi dan mengajarkan anak-anaknya untuk tetap kuat bertahan hidup di dunia yang seperti hutan rimba ini. Dan satu hal yang ku kagumi darinya adalah dia tetap berusaha menjadi pribadi yang baik hati terhadap mereka yang mungkin saja tidak sengaja telah menyakiti perasaannya. Dia adalah induk singa yang ku kagumi.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...