"Inaaaa..." begitu panggilanku terhadapnya. Terdengar tidak sopan tapi aku hanya meniru mamanya memanggil dengan namanya. Ya dia mamaku, harusnya ku sebut dia dengan "mama" tapi kenyataannya tidak, aku malah memanggilnya dengan nama. Cerita ini baru saja aku ketahui, oleh karena itu sekali-kali aku memanggilnya dengan nama "Ina" hanya untuk menjahilinya. Dia sangat tegas mendidikku terkhususnya tentang pendidikan. Sangkin tegasnya aku sampai keringat dingin setiap kali bagi raport di sekolah. Aku lebih senang memilih nenek dibandingkan dia saat harus mengambil raport karena jika ada satu saja nilai yang turun, bisa-bisa aku akan diselidiki dengan ketat. Namun dibalik ketegasannya itu, dia selalu berusaha memenuhi kebutuhanku. Dia selalu memberikan yang terbaik karena dia tau anaknya yang satu ini sangat pemilih dan cerewet. Air mata dan keringat menemaninya saat itu, semua pekerjaan dia lakukan demi mengumpulkan uang-uan...