"Sendal saja punya pasangan, apalagi kita."
Kalimat yang selalu ia dengar dari mulut seorang mama dan kalimat ini juga yang diyakininya. Akhirnya ia menemukan pasangan yang pas, yang sesuai dengan kebutuhannya dan juga yang ia mau. Setelah melewati beberapa episode yang melelahkan, ia dipertemukan dengan sosok yang tak pernah ia sangka-sangka. Bukan ia tidak percaya takdir ataupun akan menemukan pasangan di tempat ini. Tapi di saat fase berserah dan ingin lebih bebas menikmati hidup, justru pintu hatinya terbuka.
Perkenalan yang tak disangka dan singkat, justru membuat keduanya saling terpaut satu sama lain. Perbedaan yang ada tak menjadi halangan untuk berbahagia. Memang tidak 100% selalu tertawa dan bahagia karena pasti ada saja hal yang kadang tidak sesuai keinginan. Tapi hampir sebagian besar mereka menjalaninya dengan canda dan tawa.
Bersyukur, itulah yang selalu ia lakukan. Tidak ada lagi hal yang ia khawatirkan karena ia sudah menemukan pasangannya yang pas. Ia bisa menjadi dirinya sendiri, ada seseorang yang bisa ia andalkan dan sosok tersebut bisa membuat ia tenang dalam menjalani kehidupannya, serta ia tau bahwa sosok tersebut selalu mengusahakan yang terbaik untuknya dengan caranya sendiri. Sehingga ia selalu bersemangat untuk memperbaiki diri dan memberikan yang terbaik untuknya.
Ternyata memaafkan dan mengikhlaskan masa lalu menuntunku ke masa sekarang dan digantikan dengan yang terbaik. Mungkin telinga mereka sudah kebal untuk mendengarkan cerita tentangmu yang selalu ku ceritakan dengan antusias dan tulisan-tulisan yang ku tuangkan ini tak cukup untukku menggambarkan sosokmu yang selalu menjadi salah satu alasanku untuk tetap bersyukur meskipun dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
Semoga kita selalu menjadi sepasang sendal, yang saling melengkapi dalam setiap perjalanan hidup dan yang selalu beriringan dalam setiap langkah yang diambil.

Comments
Post a Comment