Dulu aku mempunyai dua kaki yang utuh, mampu berdiri tegap, berani melangkah dan mengejar semua mimpi yang kan digapai. Dulu aku punya kekuatan yang daripadanya aku merasa bisa meraih yang ku mau. Namun tidak pada saat itu, setelah salah satu kaki itu patah dan api mulai meredam, tidak ada lagi kekuatan yang tersisa. Semua terlihat samar, tak ada lagi asa. Aku terjebak dalam kabut tebal, berlari ke sana ke mari mencari arah dan tujuan.
Perlahan aku bangkit, mulai kembali berjalan dengan kaki yang pincang. Katanya hidup tetap harus berlanjut, namun aku bangkit hanya untuk menunggu masaku tiba. Ingin berlari namun berjalan saja masih tertatih. Ruang yang selalu disinari cahaya matahari berubah menjadi ruang yang penuh kabut tebal, dingin dan tak terlihat. Begitulah kekelaman menenggelamkan jiwa ini.
Pikiranku berisik, selalu berkutat dengan pertanyaan kemanakah aku mengadu dan kepada siapa aku bisa bercerita? Adakah yang kan mendengar jeritan hati dan menemaniku dalam melangkah? Aku telah punya semua yang ku gapai, tapi tak satupun diantara semuanya bisa meredakan kebisingan pikiran ini.
Aku harus bisa, yakin ku pada diri sendiri. Kakiku dipatahkan karena aku dipercaya masih mampu untuk melangkah. Kakiku telah menjadi pincang karena aku telah dipersiapkan modal untuk bisa kembali kokoh. Mungkin tak sekokoh dulu, karena sekarang masih ada sisa retakkan yang tak seorangpun bisa melihatnya. Aku pintar menutupnya.
Bertemankan kenangan-kenangan indah yang menjadi modal untukku kembali bangkit. Ajaran cinta kasih yang selalu membekas dan menjadi acuanku untuk berbagi. Memeluk rasa rindu kepada mereka yang t'lah berpulang dan menggenggam tangan yang selalu memelukku dengan hangat.
Mari berdiri di kaki yang harus selalu kokoh ini, di kaki yang terkadang akan tersandung batu kerikil, di kaki yang tak sengaja menginjak kotoran dan jalan yang berlubang. Mari tetap melangkah perlahan hingga sampai batas perhentian.

Comments
Post a Comment