Skip to main content

Kaki yang Kokoh

    Dulu aku mempunyai dua kaki yang utuh, mampu berdiri tegap, berani melangkah dan mengejar semua mimpi yang kan digapai. Dulu aku punya kekuatan yang daripadanya aku merasa bisa meraih yang ku mau. Namun tidak pada saat itu, setelah salah satu kaki itu patah dan api mulai meredam, tidak ada lagi kekuatan yang tersisa. Semua terlihat samar, tak ada lagi asa. Aku terjebak dalam kabut tebal, berlari ke sana ke mari mencari arah dan tujuan.

    Perlahan aku bangkit, mulai kembali berjalan dengan kaki yang pincang. Katanya hidup tetap harus berlanjut, namun aku bangkit hanya untuk menunggu masaku tiba. Ingin berlari namun berjalan saja masih tertatih. Ruang yang selalu disinari cahaya matahari berubah menjadi ruang yang penuh kabut tebal, dingin dan tak terlihat. Begitulah kekelaman menenggelamkan jiwa ini.

    Pikiranku berisik, selalu berkutat dengan pertanyaan kemanakah aku mengadu dan kepada siapa aku bisa bercerita? Adakah yang kan mendengar jeritan hati dan menemaniku dalam melangkah? Aku telah punya semua yang ku gapai, tapi tak satupun diantara semuanya bisa meredakan kebisingan pikiran ini.

    Aku harus bisa, yakin ku pada diri sendiri. Kakiku dipatahkan karena aku dipercaya masih mampu untuk melangkah. Kakiku telah menjadi pincang karena aku telah dipersiapkan modal untuk bisa kembali kokoh. Mungkin tak sekokoh dulu, karena sekarang masih ada sisa retakkan yang tak seorangpun bisa melihatnya.  Aku pintar menutupnya.

    Bertemankan kenangan-kenangan indah yang menjadi modal untukku kembali bangkit. Ajaran cinta kasih yang selalu membekas dan menjadi acuanku untuk berbagi. Memeluk rasa rindu kepada mereka yang t'lah berpulang dan menggenggam tangan yang selalu memelukku dengan hangat.

    Mari berdiri di kaki yang harus selalu kokoh ini, di kaki yang terkadang akan tersandung batu kerikil, di kaki yang tak sengaja menginjak kotoran dan jalan yang berlubang. Mari tetap melangkah perlahan hingga sampai batas perhentian.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...