Skip to main content

Hiruk Pikuk Hidup

 

    Berjuta-juta tahun yang lalu manusia sudah ada sebagai penghuni muka bumi ini. Manusia-manusia ini telah melewati fase kehidupan yang sama, bahkan berbagai permasalahan yang mirip pula. Manusia dengan keanekaragaman karakter dan pribadi, hal ini membentuk dinamika kehidupan dan saling mempengaruhi manusia satu dengan manusia lainnya.
    Ada manusia yang melakukan hal yang tak seharusnya dia lakukan, melakukan hal tersebut dengan keras dan secara terus menerus dapat membahayakan nyawanya. Ia sadar dan tidak takut akan konsekuensinya. Ada manusia yang pasrah akan lajur kehidupannya, ia telah kehilangan separuh hidupnya bersama dengan orang yang telah pergi meninggalkannya.
    Ada manusia yang tetap bertahan di tengah prosesnya mengikhlaskan sesuatu, sesuatu yang ia rindukan selama ini. Ia menjeritkan doa setiap saat sambil meneteskan air mata. Ada manusia ceria yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang di sekitarnya, manusia yang bisa memahami kebutuhan dan perasaan orang lain. Namun bingung menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
    Ada manusia yang menarik diri dari kehidupan sosial, muak dengan semua kemunafikkan yang tersebar. Ia memilih untuk mengasingkan diri dan berusaha untuk tidak dikenal oleh banyak orang. Ada manusia yang hanya mengikuti kemana takdir membawanya, manusia yang tidak terlalu ambil pusing akan segala hal karena ia percaya apa yang menjadi takdirnya akan tetap kembali kepadanya.
    Ada manusia yang hanya bisa melihat semua fenomena ini, manusia yang belajar memahami orang lain dan diri sendiri. Manusia yang tidak dapat menjudge orang lain dengan sembarangan, namun dengan mudahnya menyalahkan diri sendiri.
    Masih banyak lagi manusia-manusia di luar sana yang mempunyai jalannya masing-masing dalam menghadapi hiruk pikuk kehidupan ini. Adakah kalian dalam tulisan ini? Karena aku pun ada dalamnya.


Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...