Skip to main content

Peti Kehidupan

 


    Sewaktu kecil, aku suka bermain di bawah kolong tempat tidur dan tanpa sengaja sekarang aku kembali melakukannya. Namun rasanya sangat jauh berbeda. Saat kembali memasuki kolong tersebut rasanya sangat sesak, tidak seperti dahulu. Melihat setiap sisi yang tersekat erat, dengan jarak yang cukup dekat dengan pandangan mata membuat bayangan akan peti kehidupan di depan mata.
    Peti yang pasti akan kita huni suatu saat. Ukuran peti yang tak seluas dan tak senyaman tempat tidur kita berbaring, tak sebebas kita bergerak dan melihat sekitar kita. Sangat menyesakkan jika melihatnya dengan mata terbuka dan dengan penuh kesadaran.
    Jauh berbeda dengan masa kanak yang masih penuh tawa dan canda. Sebuah kolong hanyalah sebuah kolong biasa yang tidak berarti apa-apa. Namun berbeda, saat dewasa ini setelah menyaksikan orang-orang terkasih berpulang lebih dulu, tergelitik hati untuk bertanya apakah yang bisa mereka lakukan di sana, bagaimanakah perasaan mereka di dalam sana, sakit dan dinginkah tubuh mereka?
    Jika dengan membuka mata terasa menyesakkan, maka ku coba dengan menutup kedua bola mata ini. Menutupnya sambil mengosongkan semua pikiran dan perasaan, seakan hidup tak lagi hidup. Ternyata tidak ada kesesakan yang dirasa, tidak ada takut dan khawatir yang menghampiri. Hanya ada rasa tenang dan damai.
    Walau hanya beralaskan ubin dan tersekat sisi-sisi yang menghimpit. Ternyata itu adalah tempat peristirahatan terakhir yang setiap insani akan tempatkan. Hanya ada damai dan ketenangan yang akan dirasakan setelah mencampai garis akhir kehidupan.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...