Sewaktu kecil, aku suka bermain di bawah kolong tempat tidur dan tanpa sengaja sekarang aku kembali melakukannya. Namun rasanya sangat jauh berbeda. Saat kembali memasuki kolong tersebut rasanya sangat sesak, tidak seperti dahulu. Melihat setiap sisi yang tersekat erat, dengan jarak yang cukup dekat dengan pandangan mata membuat bayangan akan peti kehidupan di depan mata.
Peti yang pasti akan kita huni suatu saat. Ukuran peti yang tak seluas dan tak senyaman tempat tidur kita berbaring, tak sebebas kita bergerak dan melihat sekitar kita. Sangat menyesakkan jika melihatnya dengan mata terbuka dan dengan penuh kesadaran.
Jauh berbeda dengan masa kanak yang masih penuh tawa dan canda. Sebuah kolong hanyalah sebuah kolong biasa yang tidak berarti apa-apa. Namun berbeda, saat dewasa ini setelah menyaksikan orang-orang terkasih berpulang lebih dulu, tergelitik hati untuk bertanya apakah yang bisa mereka lakukan di sana, bagaimanakah perasaan mereka di dalam sana, sakit dan dinginkah tubuh mereka?
Jika dengan membuka mata terasa menyesakkan, maka ku coba dengan menutup kedua bola mata ini. Menutupnya sambil mengosongkan semua pikiran dan perasaan, seakan hidup tak lagi hidup. Ternyata tidak ada kesesakan yang dirasa, tidak ada takut dan khawatir yang menghampiri. Hanya ada rasa tenang dan damai.
Walau hanya beralaskan ubin dan tersekat sisi-sisi yang menghimpit. Ternyata itu adalah tempat peristirahatan terakhir yang setiap insani akan tempatkan. Hanya ada damai dan ketenangan yang akan dirasakan setelah mencampai garis akhir kehidupan.

Comments
Post a Comment