Skip to main content

Just a Dream


    Ada sesuatu yang salah, tapi dari mana awal mulanya? Arghhh...., tutur hati yang sangat jarang selaras dengan logika. Aku harus keluar, aku harus mencari udara segar sekarang. Jika tidak, bisa-bisa aku menggila dengan pikiran-pikiran busuk ini. Seperti biasa aku memanggil teman dekatku untuk pergi mengelilingi kota kecil ini. Sambil bercerita dan saling menguatkan satu sama lain.

    Tanpa terjadwalkan akhirnya kami memutuskan untuk membeli dua botol minuman dan dua bungkus kacang untuk menemani obrolan kami. Sesampainya di sana, kami duduk dan mulai membuka satu per satu jajanan yang telah kami beli sebelumnya. Suara deru ombak yang merdu, tiupan angin malam yang menenangkan, kilauan cahaya bintang yang saling beradu menemani obrolan kami malam ini.

    Semakin lama, kami semakin tenggelam dalam obrolan, tidak ada yang mengganggu, hanya ada aku dan dia yang saling mendengarkan satu sama lain. Membaringkan badan sambil melihat bintang-bintang yang sesekali jatuh di atas langit. Dia menggenggam erat tanganku dengan hangat sambil berkata “tidak apa-apa, luapkan saja semuanya, di sini kamu tidak perlu terlihat kuat seperti di tempat sebelumnya, kamu masih punya aku selagi aku masih ada di sini.”

    Tidak terbendung lagi, air mata itu terjatuh mengingat semua kebodohan dan hal-hal yang pernah dilakukan, melepaskan semua rasa lelah dalam mempertahankan sesuatu yang tidak pasti. Dia kembali berhasil menenangkan ku dengan tuturnya yang lembut dan hangatnya pelukan.

    Dia mengingatkan ku akan sosok yang ku butuhkan dan yang ku rindukan, seseorang yang telah lebih dulu meninggalkan.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...