Ada sesuatu yang salah, tapi dari mana awal mulanya? Arghhh...., tutur
hati yang sangat jarang selaras dengan logika. Aku harus keluar, aku harus
mencari udara segar sekarang. Jika tidak, bisa-bisa aku menggila dengan pikiran-pikiran busuk ini. Seperti biasa aku memanggil teman dekatku untuk pergi
mengelilingi kota kecil ini. Sambil bercerita dan saling menguatkan satu sama
lain.
Tanpa terjadwalkan akhirnya kami memutuskan untuk membeli dua botol
minuman dan dua bungkus kacang untuk menemani obrolan kami. Sesampainya di sana,
kami duduk dan mulai membuka satu per satu jajanan yang telah kami beli
sebelumnya. Suara deru ombak yang merdu, tiupan angin malam yang menenangkan,
kilauan cahaya bintang yang saling beradu menemani obrolan kami malam ini.
Semakin lama, kami semakin tenggelam dalam obrolan, tidak ada yang
mengganggu, hanya ada aku dan dia yang saling mendengarkan satu sama lain.
Membaringkan badan sambil melihat bintang-bintang yang sesekali jatuh di atas
langit. Dia menggenggam erat tanganku dengan hangat sambil berkata “tidak
apa-apa, luapkan saja semuanya, di sini kamu tidak perlu terlihat kuat seperti
di tempat sebelumnya, kamu masih punya aku selagi aku masih ada di sini.”
Tidak terbendung lagi, air mata itu terjatuh mengingat semua kebodohan
dan hal-hal yang pernah dilakukan, melepaskan semua rasa lelah dalam mempertahankan
sesuatu yang tidak pasti. Dia kembali berhasil menenangkan ku dengan tuturnya
yang lembut dan hangatnya pelukan.
Dia mengingatkan ku akan sosok yang ku butuhkan dan yang ku rindukan,
seseorang yang telah lebih dulu meninggalkan.

Comments
Post a Comment