Skip to main content

Jika Tidak, Maka


    Sebagian dari kita mungkin percaya bahwa setiap peristiwa terjadi karena adanya hukum sebab akibat, jika seperti ini maka akan seperti itu.  Serta adanya makna yang ingin disampaikan kepada kita secara tersirat. Hingga akhirnya aku pun mulai merangkumi semua peristiwa yang terjadi baik itu peristiwa kemarin ataupun peristiwa yang sudah lama terjadi.

    Jika waktu itu aku dilahirkan dari keluarga yang utuh, mungkin sekarang aku tidak akan pernah merasakan kasih yang tulus dari nenek serta para paman yang begitu baik dan perduli. Aku tidak akan pernah bertemu dengan para jemaat Gereja yang hingga saat ini masih perduli dan mengirimkan doa-doanya kepadaku.

    Jika waktu itu aku hanya memikirkan perasaanku sendiri tanpa memikirkan kebutuhan mama, mungkin aku tidak akan pernah merasakan kehangatan mereka dan tidak percaya bahwa masih ada kasih tanpa memandang asal ataupun darah. Aku tidak akan percaya bahwa masih ada orang yang mau terbuka menerima, merangkul dan menganggap kita adalah bagian dari mereka. Aku tidak akan pernah tahu sungguh bermaknanya momen saat semua keluarga besar berkumpul menjadi satu.

    Jika waktu itu aku tidak memilih karir ku sekarang, mungkin aku tidak bisa belajar menahan keinginan, mengelola dan belajar bersyukur akan keterbatasan untuk hidup berkecukupan. Mungkin saat ini aku hanya akan mengeluh dengan tugas yang menumpuk dan mengandalkan semua fasilitas yang sudah disediakan.

    Jika waktu itu aku tidak memberanikan diri untuk membuka hati, mungkin aku tidak akan pernah merasakan semua momen yang pernah dirasakan kaum muda pada umumnya, aku tidak akan pernah tahu bagaimana aku bersikap terhadap pasangan dan tidak akan pernah tahu sosok seperti apa yang aku butuhkan serta gambaran masa depan seperti apa yang aku ingin bangun bersama nantinya.

    Jika tidak ada kematian di sekitarku, mungkin aku tidak akan pernah menghargai waktu, tidak akan pernah menghargai kehadiran orang-orang di sekitarku, aku akan hidup bebas dengan kebahagiaanku sendiri tanpa memikirkan perasaan mereka sedikitpun dan aku menjadi manusia egois yang pernah ada.

    Semua terjadi begitu saja, apa yang terjadi ternyata begitu indah. Benar jika ada rasa luka, kecewa dan amarah yang terjadi di dalamnya. Namun setelah dipahami, aku justru menjadi bersyukur karena mampu melewati semua dan aku bahagia atas pilihan hidup yang ku pilih meski terkadang harus mengorbankan perasaan sendiri.

    Semoga kamu yang membaca ini juga mampu memaknai semua skenario kehidupan yang terjadi dengan baik dan belajar dari setiap kesalahan sehingga kamu dan aku mampu menjadi manusia dengan versi terbaik walaupun terkadang dunia tidak selalu baik dengan kita.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...