Ah, betapa terpencilnya kota itu,
yang dahulu ramai. Yang dahulu agung sekarang menjadi jajahan. Pada malam hari
tersedu-sedu ia menangis, air matanya bercucuran di pipi. Dari semua sahabatnya
tak ada seorangpun yang menghibur dia. Semua temannya mengkhianatinya, mereka
menjadi seterunya. Ia telah ditinggalkan.
Ia tinggal di tengah-tengah
bangsa, namun tidak mendapat ketentraman. Semua yang dahulu menghormatinya,
sekarang menghinanya. Dan ia sendiri berkeluh kesah. Ia tak berpikir akan
akhirnya, sangatlah dalam ia jatuh.
Acuh tak acuhkah kalian yang
berlalu-lalang? Pandanglah dan lihatlah dengan seksama, apakah ada kesedihan
seperti ini yang membuatku merana? Didesaknya aku mundur, dibuatnya aku
terkejut dengan kesakitan sepanjang hari. Segala pelanggaranku adalah kuk yang
berat, sehingga lumpuhlah kekuatanku. Ia membuang semua pahlawanku yang ada
dalam lingkunganku. Ia menyerahkan aku ke tangan orang-orang yang tak dapat ku
tentangi. Karena inilah aku menangis, mencucurkan air, karena jauh dari padaku penghibur
yang menyegarkan jiwaku, bingunglah mereka karena terlampau kuat si seteru.
Aku mengulurkan tangan tapi taka
da seorangpun yang menghibur, sedang ia mengerahkan tetangga-tetangganya
sebagai lawan ku. Kota itu telah menjadi najis di tengah-tengah mereka. Aku
memanggil sahabat-sahabatku, tetapi mereka memperdaya aku.
Lihatlah betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku, hatiku terbolak-balik di dalam dadaku, karena sudah melampaui batas aku memberontak. Dengarlah bagaimana keluh kesahku, sedang tiada penghibur bagiku. Seteru-seteruku mendengar dan gembira tentang kecelakaanku. Biarlah mereka menjadi seperti aku, karena banyaklah keluh kesahku dan pedih hatiku.

Comments
Post a Comment