Aku lahir tanpa membawa apa-apa.
Aku lahir tanpa tahu bagaimana bentuk fisikku sebenarnya. Aku lahir tanpa bisa
memilih keluarga seperti apa yang ku mau. Aku lahir tanpa ingat perjanjian
seberapa lama masaku tinggal di tempat ini.
Aku tumbuh dengan situasi dan
keadaan yang sudah terjadi tanpa bisa ku ubah. Aku tumbuh dengan orang-orang
yang sudah diatur oleh alam. Aku tumbuh dengan masa lalu yang sudah
menjadi bagian takdirku.
Aku hidup untuk diriku. Aku hidup
untuk mencintai apa yang sudah dipercayakan menjadi bagianku. Aku hidup untuk
mereka yang selalu mendukung dan memberiku warna. Aku harus tetap hidup hingga
tugasku benar-benar selesai.
Pada musim tandus, mereka
menghujaniku dengan candaan. Pada musim dingin, mereka menghangatkanku dengan
kepedulian. Pada musim gugur, mereka menguatkanku dengan momen-momen yang sudah
pernah terlewati. Pada musim semi, mereka ikut bahagia akan kesenanganku.
Ahh jika kembali direnungkan
begitu banyak warna indah yang sudah terlukis. Lantas kenapa di warna gelap ini
aku harus bersedih? Dalam kegelapan ini akhirnya aku bisa kembali melihat
warna-warni itu. Ternyata akupun bisa bersyukur dalam kegelapan ini. Kegelapan
tidak bisa melahapku begitu saja karena warna yang telah mereka lukis begitu
kuat hingga akupun ingin tetap meninggalkan warna yang indah untuk mereka.
Seseorang juga berkata kepadaku bahkan jika semua nya diselimuti kegelapan
sekalipun, percayalah jika diyakini maka cahaya itu akan datang kembali untuk
menyinari semuanya.
Jika lahir dan tumbuh aku tidak
bisa memilih dan merubahnya kembali. Biarkan pada masa kini aku memilih
bagaimana aku akan mengakhirinya, jalanan mana yang akan aku tempuh, dengan
siapa dan dimana aku akan menghabiskannya. Akan aku gunakan kesempatan ini
untuk membagikan semua cinta dan kasih sayang yang ku dapatkan selama ini
kepada mereka yang masih setia hadir dan tak lelah menghadapi kelemahanku.

Comments
Post a Comment