Skip to main content

SAMPAI BATAS USIA


    Aku lahir tanpa membawa apa-apa. Aku lahir tanpa tahu bagaimana bentuk fisikku sebenarnya. Aku lahir tanpa bisa memilih keluarga seperti apa yang ku mau. Aku lahir tanpa ingat perjanjian seberapa lama masaku tinggal di tempat ini.

    Aku tumbuh dengan situasi dan keadaan yang sudah terjadi tanpa bisa ku ubah. Aku tumbuh dengan orang-orang yang sudah diatur oleh alam. Aku tumbuh dengan masa lalu yang sudah menjadi bagian takdirku.

    Aku hidup untuk diriku. Aku hidup untuk mencintai apa yang sudah dipercayakan menjadi bagianku. Aku hidup untuk mereka yang selalu mendukung dan memberiku warna. Aku harus tetap hidup hingga tugasku benar-benar selesai.

    Pada musim tandus, mereka menghujaniku dengan candaan. Pada musim dingin, mereka menghangatkanku dengan kepedulian. Pada musim gugur, mereka menguatkanku dengan momen-momen yang sudah pernah terlewati. Pada musim semi, mereka ikut bahagia akan kesenanganku.

    Ahh jika kembali direnungkan begitu banyak warna indah yang sudah terlukis. Lantas kenapa di warna gelap ini aku harus bersedih? Dalam kegelapan ini akhirnya aku bisa kembali melihat warna-warni itu. Ternyata akupun bisa bersyukur dalam kegelapan ini. Kegelapan tidak bisa melahapku begitu saja karena warna yang telah mereka lukis begitu kuat hingga akupun ingin tetap meninggalkan warna yang indah untuk mereka. Seseorang juga berkata kepadaku bahkan jika semua nya diselimuti kegelapan sekalipun, percayalah jika diyakini maka cahaya itu akan datang kembali untuk menyinari semuanya.

    Jika lahir dan tumbuh aku tidak bisa memilih dan merubahnya kembali. Biarkan pada masa kini aku memilih bagaimana aku akan mengakhirinya, jalanan mana yang akan aku tempuh, dengan siapa dan dimana aku akan menghabiskannya. Akan aku gunakan kesempatan ini untuk membagikan semua cinta dan kasih sayang yang ku dapatkan selama ini kepada mereka yang masih setia hadir dan tak lelah menghadapi kelemahanku.


 

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...