Ini kisahku di tahun 2017-2018 tentang quarter life crisis yang biasa terjadi pada setiap orang. Tanpa diduga semua hubungan yang tadinya terlihat baik-baik saja berubah menjadi benang kusut. Hubungan pertemanan, romansa dan pelayanan menjadi kacau. Hal ini sangat berdampak dengan psikis ku saat itu, tapi untungnya aku punya dosen psikolog yang bisa membantu dan seorang bapak rohani yang membantu proses penyembuhanku.
Di tengah penyusunan skripsi, aku lebih memilih untuk fokus kepada hal-hal yang bisa ku handle sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Biasanya aku selalu bersemangat mengajak teman-teman yang lain untuk ikut terlibat dalam pelayanan, namun kali ini sedikit berbeda. Ntah aku yang tidak peka dengan meraka atau mereka yang tidak bisa sesekali berinisiatif untuk mengulurkan sendiri tangan mereka dan memahami kondisiku saat itu. Lambat laun suasana mulai berubah dan terasa canggung, tidak seperti biasanya.
Aku merasa tidak bersalah begitu juga dengan mereka. Akhirnya aku memilih mundur dari pelayanan dan berubah sebagai hamba biasa sambil melihat apakah mereka masih mau merangkulku untuk kembali. Nyatanya harapanku pupus. Hanya ada satu orang yang masih mau mengajakku untuk tetap terlibat pelayanan.
Kejadian ini membuatku banyak merenung "Kenapa aku mundur dan tidak berani kembali dalam pelayanan?", "Sebenarnya siapa yang aku layani selama ini, untuk Tuhan atau manusia?", "Apakah semua pelayanan yang ku lakukan selama ini hanya sebuah rutinitas saja agar dipandang oleh orang lain dan dianggap sebagai orang yang taat?". Saat perenungan ini aku malu pada diri sendiri, orang lain dan terkhususnya Tuhan. Seakan aku lari dari sesuatu dan membohongi diri selama ini.
Satu hal yang selalu orang lain katakan bahwa seseorang yang rajin ibadah belum tentu memiliki iman yang tertuju kepada Tuhan. Yupss... It's true and I'm in. Aku kembali merenungkan setiap kejadian yang terjadi dan mulai membangun landasan iman serta mencari tahu panggilan hidupku. Akhirnya aku terpanggil untuk melayani anak-anak karena saat menjadi anak-anak duniaku penuh dengan kasih dan memandang dunia dari sudut pandang yang indah. Hal ini juga yang selalu menjadi kerinduanku sampai saat ini. Setidaknya ada satu hari dalam seminggu dimana anak-anak bisa bermain, tertawa bebas dan bisa menutupi sedikit luka yang mereka punya.
Setiap orang mungkin punya cerita perjalanan iman nya masing-masing dan kita tidak bisa menggurui mereka agar menjadi sama dengan kita. Biarkan mereka merasakan sendiri proses perjalanan spiritual ini. Sehingga dia bisa merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Hal ini juga mengajarkan ku untuk tidak men-judge atau bersikap fanatik terhadap satu hal yang bersifat privasi dan tidak bisa diselami oleh akal manusia. Pada dasarnya semua manusia adalah berdosa namun kita berhak untuk dekat dengan Sang Pencipta.
Semoga kita bisa selalu bertumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Comments
Post a Comment