Skip to main content

Keluarga Cemara


    Di sebuah gubuk yang hangat, tinggallah papa beruang, mama singa, si sulung rubah, kakak kedua panda, kakak ketiga kucing dan si bungsu badak. Gubuk itu tidak pernah sunyi sama sekali, kecuali saat semuanya sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Kisah ini akan dituliskan berdasarkan sudut pandang si tikus.

    Pada suatu ketika si sulung harus tinggal terpisah dengan mereka dan hanya bisa bertemu di momen-momen tertentu. Sehingga tugas dan tanggung jawab sebagai kakak tertua jatuh ke tangan panda. Ini bukanlah hal yang ia inginkan namun tidak bisa dihindari. Panda harus menjadi sosok kakak panutan, mengalah kepada adik-adik dan memperhatikan mereka. Namun ia sadar bahwa ia juga adalah seorang adik. Sehingga ia menguburkan segala sifat kekanak-kanakannya.

    Seiring berjalannya waktu, tiba saat nya bagi panda untuk pergi jauh dan meninggalkan gubuk. Dengan berbekalkan pengalaman dan keberanian yang telah ia kumpulkan selama ini. Sebelum pergi ia meninggalkan sepucuk surat untuk keluarga kecilnya. Kira-kira begini isi suratnya:

Pertama-tama teruntuk kakak sulungku, ku tinggalkan separuh tugas dan tanggung jawabku sebagai kakak tertua bagi adik-adik kita. Posisi sulung mengajarkan ku sebagai pemimpin yang bisa membimbing sekaligus pengasih untuk adik-adik. Banyak ego yang terkikis dan kesabaran yang terbentuk. Teruntuk adikku kucing dan badak, kejarlah keinginan kalian. Belajarlah bertanggung jawab atas pilihan yang kalian buat. Terimakasih sudah menjadi adik sekaligus teman di saat hidup kadang terasa membosankan.

Untuk papa beruang, kiranya sehat selalu dan setia menemani mama singa kemanapun ia pergi. Terimakasih sudah mau bersusah payah membantu setiap proses pencapaianku. Terakhir untuk mama singa, sabar dan kuat selalu mama. Terimakasih sudah mengajarkan dan menjadikan ku sebagai wanita mandiri. Terimakasih untuk setiap nasihat yang menjadi bekalku untuk tangguh setiap saat. Terimakasih juga untuk doa-doa yang selalu melindungi setiap langkahku.

Mungkin nanti bukan soal jarak dan waktu yang akan memisahkan kita. Namun kenyataan yang nantinya tak bisa kita hindari. Terimakasih untuk setiap momen suka-duka dan kehangatan yang sudah kita ciptakan bersama. Maaf untuk semua perkataan dan tindakan yang membuat kalian terluka. Doa ku selalu mengiringi kalian semua dan percayalah aku sangat menyayangi kalian.

    Sepucuk surat sudah tertulis dengan rapi dan tikus telah merelakan segala sesuatu terjadi sebagaimana mestinya. Panda telah siap untuk pergi dan berjelajah.

 

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...