Skip to main content

Cawan Syukur


    Apakah kamu pernah melihat atau memegang sebuah cawan? Bukankah cawan adalah benda yang sangat berharga pada masanya. Sampai sekarangpun cawan masih menjadi benda penting dalam suatu ritual keagamaan. Dari pengertiannya sendiri, cawan adalah sebuah cangkir atau mangkuk sebagai tempat menampung dan menyimpan sesuatu. Berarti setiap orang boleh memilikinya untuk tujuan masing-masing.

    Pada dasarnya setiap kita pribadi sudah memiliki cawan dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Sudahkah kamu menyadarinya? Jika ya, apakah kamu sudah mengisinya dengan sesuatu? Apakah dengan air mata, kepahitan, kekecewaan, dendam dan keputusasaan? Lantas untuk apa kalian mengisi cawan yang berharga dengan hal-hal yang seharusnya kalian buang dari dulu? Bukankah cawan yang berharga harus diisi pula dengan hal-hal yang berharga?

    Jika hanya disii dengan sesuatu yang sepantasnya kalian buang maka cawan itu tak lagi berharga. Bagaimana kalau aku mengajak kalian untuk mengisinya dengan hal-hal yang berharga, seperti kenangan bersama dengan orang terkasih, proses kehidupan yang sudah berhasil kalian lalui, bantuan dan rejeki yang datang tak terduga serta hal-hal berharga lainnya dalam hidup kalian.

    Menurutku pribadi ada satu hal yang sangat berharga di atas semua itu yaitu syukur. Bersyukur dikasih kesempatan untuk bisa bangun dan beraktifitas kembali. Bersyukur sudah bisa melalui satu hari yang panjang. Bersyukur masih bisa bertemu dan mendengarkan suara orang yang kita kasihi. Bersyukur masih diberikan kecukupan dalam segala hal.

    Namun rasa syukur hanya diucapkan saat kita mendapatkan sesuatu karena kebanyakan dari kita dengan mudah melakukannya saat bahagia. Nyatanya, rasa syukur yang paling berat dilakukan ketika kita mengucapkannya saat merasa takut dan khawatir akan sesuatu. Meletakkan rasa syukur ke dalam sebuah cawan yang telah terisi dengan hal-hal berharga dengan menitihkan air mata sambil tidak berharap kehendaknya yang terjadi namun menyerahkan semuanya terjadi sebagaimana mestinya. Mengucap rasa syukur dalam setiap keadaan, di waktu baik dan di waktu yang tidak menyenangkan.

    Cawan itu menjadi sangat berharga karena telah diisi dengan proses yang berharga pula. Kamu dan aku punya cawan itu, cawan yang akan diisi dengan hal-hal berharga dan rasa syukur yang berlimpah. Jika akhirnya bukan kita sendiri yang menikmatinya sebagai pemilik, maka biarkan cawan itu dapat dinikmati oleh orang-orang.


 

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...