Skip to main content

Roda Waktu


    Hai kamu! Iya kamu yang saat ini sedang meratapi kesedihan yang tak terbendung. Dunia mu seakan berhenti, dadamu terasa sesak, jiwa mu remuk tak bersisa. Apakah kedua kakimu masih bisa berdiri tegak? Sesaat di kepala mu hanya berputar kilasan kenangan bersamanya. Impian yang ingin diwujudkan untuk dia akhirnya runtuh tak bersisa. Tidak ada lagi dia yang selalu menemani dan mendukungmu. Dia sudah pergi, akhirnya pergi untuk selamanya. Tidak ada lagi celotehannya, tawanya atau perhatian sederhananya yang selalu mengingatkan akan rumah tempat untuk berpulang dan bercerita.

    Tak pernah terbayangkan bagian skenario kehidupan ini akan terjadi sangat cepat. Andai Tuhan bisa memberitahu lebih awal berapa lama lagi sisa waktu bersamanya, mungkin bisa menghapus penyesalan ini. Kamu berpikir tak cukup membuatnya bahagia selama ini, hanya ada luka yang selalu menyakiti perasaannya. Penyesalan ini mulai menggerogoti batinmu. Adakah yang bisa menyampaikan rasa sayang sekaligus rasa bersalah ini untuk dia?

    Tidak ada seorangpun yang suka dengan kata perpisahan. Tidak ada satupun yang mau ditinggalkan. Bisakah waktu diputar kembali untuk memperbaiki setiap kesalahan yang pernah dilakukan? Ingin sekali jiwa ini ikut bersamanya.

    Aku belajar ternyata bukan tentang people come and go namun tentang waktu yang tetap berjalan tanpa memandang apapun. Jika orang-orang hanya datang dan pergi, maka mereka hanyalah figuran dalam kehidupan ini. Mereka yang berharga akan selalu ada sampai waktu kesudahannya. Sayangnya aku terlambat menyadari ini. Tidak maksimal ku gunakan waktu bersamanya, aku malah asik dengan dunia dan kesibukkan ku sendiri hingga lupa ada dia yang menunggu kabar dan cerita dari ku. Dia yang diam-diam selalu mendoakan kebahagianku dari jauh namun aku luput dengan ego duniawi.

    Untuk siapa pun tolong sampaikan pada nya bahwa aku sungguh menyayanginya, terimakasih untuk semua hal yang t’lah dia berikan, maaf belum sempat membahagiakanmu dan maaf untuk setiap luka yang tak sengaja ku tancapkan dalam hatimu. Meskipun tak bersama lagi, tolong tetap lindungi dan dukung setiap langkah yang ditempuh nantinya, seperti yang biasa kamu lakukan untukku di sini.

    Teruntuk jiwamu yang saat ini sedang berduka dan masih menyimpan penyesalan. Dia yang pergi lebih dahulu saat ini sudah merasa bahagia. Tidak ada lagi kesakitan ataupun beban dunia yang dia pikul. Tidak ada penyesalan dalam hidupnya karena telah menyayangi mu selama ini. Jiwa mu yang menyimpan luka dan penyesalan hanya akan membuatnya merasa bersalah karena telah meninggalkanmu.

    Sekarang kamu tahu apa yang lebih berharga dan tak bisa dibeli dengan apapun di dunia ini, maka gunakanlah waktu ini untuk menjalani hidup dengan maksimal dan habiskanlah dengan orang-orang terkasih. Itulah bentuk penebusan akan penyesalanmu.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...