Skip to main content

Kotak Pandora


    Ini kisah seorang anak kecil yang selalu ceria, ia dibebaskan untuk bermain kesana kemari, bebas melakukan apa yang ia mau. Orang-orang di sekitarnya sangat menyukai keceriaan anak ini. Hingga ia bertumbuh dewasa menjadi sosok yang mandiri dan tangguh. Hampir semua hal bisa ia kuasai dan tidak sedikit juga orang meminta bantuan kepadanya.

    Tapi tidak seorang pun tahu bahwa ia punya sebuah kotak pandora yang sudah lama ia isi sejak kecil. Mungkin sebagian banyak orang percaya bahwa kotak pandora adalah sebuah kotak berisi malapetaka untuk orang sekitar jika dibukakan. Namun ia isi kotak pandora ini dengan harapan-harapan yang mungkin saja bisa terwujud di masa depan.

    Harapan agar ia bisa memilih jalannya sendiri, harapan agar ia bisa sesekali tidak memikirkan perasaan orang lain, harapan agar ia bisa menjadi dirinya yang utuh tanpa ekspektasi dari orang lain, harapan akan ada satu orang yang bisa menjadi tumpuannya, harapan akan ada satu orang yang tidak akan pernah berubah meskipun dunia akan selalu berubah, harapan akan hidup yang panjang hingga ia puas dan kehabisan akal untuk mencoba hal apa lagi.

    Tidak ada yang salah dengan harapan-harapan itu, hanya saja ia tetap menyimpan kotak pandora itu dalam kegelapan, takut jika terbuka akan menjadi wabah untuk orang-orang di sekitarnya. Dewasa ini ia hanya bisa menyibukkan diri untuk melupakan kotak pandora yang terasingkan itu. Namun sempat terbesit dipikirannya untuk masuk ke dalam menarik kembali kotak tersebut, tapi ia berhenti di depan pintu, sejenak tertegun mengingat akan denting waktu yang bisa saja tiba-tiba berhenti.

    Lantas untuk apa ku buka kotak ini jika hanya bisa ku tarik kembali tanpa bisa ku buka dan ku wujudkan jika waktuku sudah habis, batinnya dalam hati. Akhirnya ia hanya bisa menyenderkan telapak tangannya di muka pintu dan kembali pergi menyibukkan diri. Kotak pandora itu pun tetap dalam posisinya yang tertutup rapat di tempat gelap tanpa seorangpun yang tahu keberadaannya.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...