Skip to main content

NAMLEA

        Namlea, sebuah nama tempat yang sangat asing di telinga ku mungkin juga di telinga teman-teman. Sebuah pulau kecil yang dikelilingi oleh gradasi warna laut yang cantik, bukit-bukit yang menjulang tinggi dan air terjun yang mengalir tiada henti. Ditambah dengan suasana tenang dan penduduk yang ramah, sangat berbanding terbalik dengan asal tempatku yang sangat hiruk pikuk dan jauh dari pemandangan alam.
        Awalnya aku hanya berencana untuk menenangkan diri, membuang semua hal yang selama ini membebani perasaan, menyembuhkan luka sambil berbenah diri. Mengenal lebih dalam tentang diri ini, menguji diri ini sejauh mana bisa melangkah dan bertahan dengan keterbatasan yang ada.
        Ternyata di tempat kecil ini, aku belajar banyak hal. Hal yang biasa aku lihat di film-film dan hanya ku anggap fiksi ternyata terjadi di dunia nyata. Hal-hal yang ku anggap jahat ternyata tak seburuk itu. Yang ku kira hanya kaum adam saja yang selalu menyakiti ternyata kaum hawa pun bisa bertindak sadis.
        Namlea menjadi tempat ku belajar dan berbenah, tempatku merasakan hal-hal baru. Di tempat kecil ini aku merasakan segudang rasa dan cerita yang mungkin bisa ku ceritakan kepada orang lain. Tak seperti bayanganku di awal, ternyata Namlea punya segudang warna yang harus ku rasakan sendiri, entah itu duka ataupun suka nantinya. Apakah Namlea akan menjadi tempatku menghabiskan hidup atau hanya sekedar tempat singgah untuk ku bertumbuh menjadi manusia yang lebih utuh? Only God know the answer. Dan aku hanya bisa berharap, tidak ada penyesalan yang ku tinggalkan di sini.

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...