Skip to main content

WOUND

        Luka atau sakit hati adalah sesuatu yang biasa dan akan selalu dirasakan manusia kapan saja. Ada yang terluka karena perkataan orang tua, ada yang terluka karena alam semesta tidak pernah mendukung keinginannya, ada yang terluka karena tidak ada seorang pun di sekitar mau mendengarkan keluh kesah, ada yang diam-diam terluka karena tidak bisa mengutarakan perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Katanya orang terdekatlah yang akan lebih melukai, namun terkadang pikiran kita sendiri lah yang tak sejalan dengan perasaan sehingga tanpa sadar melukai diri sendiri.
        Marah, kecewa, sedih bahkan tekanan-tekanan lainnya yang membuat sesak terkadang menggoda kita untuk menyerah dengan keadaan, memutuskan hubungan sampai mengakhiri hidup. Diam-diam luka mengubah kita menjadi seorang monster yang tidak bisa kita kendalikan sendiri. Monster itu membuat kita berkata kasar, berpikiran buruk terhadap orang yang kita kasihi, mengumpat Sang Pencipta bahkan tanpa kita sadari kita sudah menghancurkan hidup kita sendiri. Apakah kita menyadarinya?
        Luka yang tertumpuk, luka yang diabaikan, luka yang tak kunjung berdamai. Sampai kapan dibiarkan begitu saja? Setelah kita melupakan luka, apakah jiwa kita akan damai? Mau sampai kapan kita menipu diri sendiri hanya untuk menghindari sakit nya rasa luka itu? Pada akhirnya benteng pertahanan akan hancur karena akan selalu tumbuh luka-luka baru yang tidak bisa kita hindari selama kita masih bernafas. Renungkan.....
        

Comments

Popular posts from this blog

Prolog Cerita

          Meli, sosok gadis kecil periang yang selalu memiliki rasa penasaran yang tinggi. Ia sangat keras kepala namun memiliki hati yang sangat lembut. Tak mengenal rasa takut untuk mencoba serta memiliki segudang cita-cita dan impian. Dengan jiwa sosialnya yang sangat tinggi kerap membuat ia pusing sendiri jika tidak bisa membantu mereka saat itu juga secara langsung. Dan akhirnya ia mempergunakan orang-orang di sekitarnya untuk merealisasikan bantuan tersebut. Lumayan juga, pikirnya.      Toa, begitu nama panggilannya. Lelaki yang terlahir dalam kesederhanaan dan tumbuh dewasa. Tak sesuai dengan umurnya, ia sudah memiliki pendiriannya sendiri, tidak mudah terpengaruh dengan keadaan namun tetap terbuka dengan setiap masukkan. Di balik sikapnya yang terlihat diam dan cuek, ternyata diam-diam dia mengamati orang-orang di sekitarnya.      Meli dan Toa, dua manusia dengan kepribadian yang berbeda. Meli yang ekstrovert dan Toa y...

Anak Tangga

     Setiap orang punya tangganya masing-masing. Setiap orang punya cara dan jarak langkahnya masing-masing. Baik naik ataupun turun, semua punya waktu dan prosesnya masing-masing. Ada juga di tengah prosesnya harus terhenti karena keadaan atau juga karena memang ia ingin berhenti sejenak untuk beristirahat. Ada yang menaiki tangga dengan perlahan, ada juga yang menaikinya dengan dua anak tangga sekaligus. Ada yang menuruni tangga sambil menikmatinya dan ada juga yang tiba-tiba terperosok karena tidak berhati-hati. Meskipun sakit karena terjatuh, ia harus tetap bangkit berdiri.      Sembari menaiki dan menuruni anak tangga, ia bisa menikmati prosesnya sambil melihat keindahan sekitar dengan tidak melupakan tujuannya. Lebih indah jika ada tangan yang berpegangan saat menikmati semua proses ini. Seakan ada orang lain yang ikut juga merasakan apa yang kita rasakan. Dengannya kita merasa lebih aman dan tidak takut untuk menaiki atau menuruni setiap anak tangga....

Pulang ke Rumah

       Senang rasanya bisa kembali pulang ke rumah setelah menjalani semua tugas dan tanggung jawab yang menguras tenaga dan pikiran. Pulang kali ini mungkin sedikit berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Ada sedikit yang berkurang namun tidak mengurangi rasa rindu itu.     Gubuk kecil yang dipenuhi oleh manusia-manusia berisik, aroma tungku yang terbakar, suara panci yang berdenting, semua hal sederhana semuanya ada di sini. Sejenak, cerita dan suara tawa mereka mampu melepaskan beban yang ada. Sungguh sebuah tempat peristirahatan yang nyaman.     Jauh dari jangkauan zaman membuat insan ini bisa lebih menyatu dengan alam. Ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Ketenangan yang tidak bisa ditukar maupun dibeli dengan apapun.     Ayam berkokok, perlahan semua pintu dan jendela terbuka, cahaya matahari berlomba masuk menyinari kedalaman rumah.  Tidak ada aktifiitas yang istimewa, sem...