Luka atau sakit hati adalah sesuatu yang biasa dan akan selalu dirasakan manusia kapan saja. Ada yang terluka karena perkataan orang tua, ada yang terluka karena alam semesta tidak pernah mendukung keinginannya, ada yang terluka karena tidak ada seorang pun di sekitar mau mendengarkan keluh kesah, ada yang diam-diam terluka karena tidak bisa mengutarakan perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Katanya orang terdekatlah yang akan lebih melukai, namun terkadang pikiran kita sendiri lah yang tak sejalan dengan perasaan sehingga tanpa sadar melukai diri sendiri.
Marah, kecewa, sedih bahkan tekanan-tekanan lainnya yang membuat sesak terkadang menggoda kita untuk menyerah dengan keadaan, memutuskan hubungan sampai mengakhiri hidup. Diam-diam luka mengubah kita menjadi seorang monster yang tidak bisa kita kendalikan sendiri. Monster itu membuat kita berkata kasar, berpikiran buruk terhadap orang yang kita kasihi, mengumpat Sang Pencipta bahkan tanpa kita sadari kita sudah menghancurkan hidup kita sendiri. Apakah kita menyadarinya?
Luka yang tertumpuk, luka yang diabaikan, luka yang tak kunjung berdamai. Sampai kapan dibiarkan begitu saja? Setelah kita melupakan luka, apakah jiwa kita akan damai? Mau sampai kapan kita menipu diri sendiri hanya untuk menghindari sakit nya rasa luka itu? Pada akhirnya benteng pertahanan akan hancur karena akan selalu tumbuh luka-luka baru yang tidak bisa kita hindari selama kita masih bernafas. Renungkan.....

Comments
Post a Comment