Adakah di antara kita yang memiliki arti cinta secara konsisten? Atau secara pasti mengartikan cinta sebagai bentuk yang pasti? Ku rasa tidak ada, karena nyatanya definisi cinta juga bisa berubah seiring usia. Bertambahnya usia membuat pemahaman akan cinta menjadi realistis dan lebih mendalam. Contohnya seperti ini:
Saat kanak-kanak, kita mengira cinta adalah tentang seorang pria bertekuk lutut memberikan cincin kepada sang wanita, tentang makan malam yang mewah, atau tentang rayuan dan pujian yang membuat pipinya perlahan memerah.
Saat remaja, kita mengira cinta adalah tentang berkencan saat malam minggu, tentang menggunakan pakaian terbaik, rambut yang tertata rapi dan parfume yang sangat wangi agar kita terlihat pantas dan menjadi pasangan yang sempurna di mata orang lain.
Tapi di saat ini, aku merasa cinta itu adalah tentang dorongan untuk merawat dirinya, memikirkan menu apa yang akan disiapkan untuknya, menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat, menyediakan telinga dan memberikannya saran bak seorang sahabat, atau mengusilinya dengan lelucon receh atau bertingkah konyol bak seorang adik-kakak. Tetap merangkul ketika salah satunya merasa tidak baik-baik saja. Diam-diam memandang wajah nya yang tertidur pulas, mengelus kepalanya, mencium keningnya sambil berkata di dalam hati betapa bersyukurnya diberi kesempatan untuk bertemu dan melakukan hampir semuanya secara bersama.
Jadi pada akhirnya, keromantisan cinta kini justru berasal dari kesediaan untuk menunggu, kesediaan untuk lelah, kesediaan untuk berkorban, kesediaan melihat dan mendengar, kesediaan untuk berjuang dan bersabar, kesediaan untuk membangun dan merawat, kesediaan untuk bertahan dan menguatkan, kesediaan memberi dan menerima, mendahulukan ikhlas pada ketetapan Tuhan namun tetap teguh berkomitmen memberikan yang terbaik untuknya.
Ternyata cinta sekontradiksi itu. Ia tidak terdapat dalam kesenangan sebuah situasi, tidak juga terdapat dalam kemewahan duniawi. Cinta justru terletak pada ketidaksempurnaan, ketidakbahagiaan, kesakitan yang sanggup ataupun tidak kita nikmati.

Comments
Post a Comment