Suatu hari ia duduk di pinggir teras rumah sambil menatap langit biru perpaduan cahaya matahari, mendengarkan kicauan burung-burung, merasakan sentuhan angin melalui kulit tubuhnya yang sensitif. Sesekali ia memejamkan kedua matanya hanya untuk menikmati momen itu. Sesaat ia terhanyut....Ahh sepertinya sudah lama ia tidak pernah merasakan momen itu, setiap hari harus bermain dengan kesibukan fana yang tak pernah habisnya. Tanpa disadari ia telah tumbuh dewasa karena waktu.
Tiba-tiba hujan turun membasahi semua yang ada di bawahnya. Tercium aroma dedaunan dan tanah basah, mengembalikan semua kenangan indah masa itu, masa dimana semua terasa bahagia dan dunia terlihat baik-baik saja. Masa penuh cinta dan kasih sayang yang melimpah.
Air mata pun ikut terjatuh membasahi pipi, ia turun dengan sendirinya. Menyadari bahwa masa itu tidak akan pernah terjadi lagi di masa sekarang, semua sangat jauh berbeda. Kecewa, amarah, kesedihan, kecemasan dan merasa bersalah lebih banyak mewarnai masa ini. Banyak kebohongan, kemunafikan dan ketidakpastian yang harus dihadapi. Tidak satupun kawan yang bisa ia percaya, tidak ada seorangpun yang bisa diandalkan. Kepada siapa ia harus mengadu? Ke arah mana ia harus melangkah?
Perlahan ia mengamati waktu-waktu yang dimiliki orang lain. Ia sadar sejatinya setiap orang memiliki waktu yang berbeda-beda. Ada yang terlambat, cepat dari yang seharusnya dan ada juga yang berjalan sesuai tempo nya. Ada yang sangat berbahagia dan ada pula yang menangis histeris. Ada yang menutupi lukanya dengan tersenyum dan kemudian disembuhkan oleh hal yang tidak pernah diminta sebelumnya.
Apakah sejatinya setiap insan harus melengkapi semua aspek kehidupan dewasa dalam waktu dekat? Menempuh pendidikan setinggi-tingginya di universitas ternama? Mendapatkan pekerjaan bergengsi, gaji yang besar, jabatan tinggi dan usaha besar di usia muda? Atau menggelarkan pernikahan yang megah bak kerajaan?
Mengejar waktu yang seharusnya bukan milik kita, memaksakan waktu agar berjalan sesuai kemauan kita ataupun menghentikan waktu. Pada akhirnya setiap insan takkan mampu melakukannya, akan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Nyatanya semua harus berjalan dengan waktu dan tempo nya sendiri.
Suara hujan berhenti, perlahan membuka mata dan melihat waktu setia berjalan pada porosnya...

Comments
Post a Comment