Dulu aku mempunyai dua kaki yang utuh, mampu berdiri tegap, berani melangkah dan mengejar semua mimpi yang kan digapai. Dulu aku punya kekuatan yang daripadanya aku merasa bisa meraih yang ku mau. Namun tidak pada saat itu, setelah salah satu kaki itu patah dan api mulai meredam, tidak ada lagi kekuatan yang tersisa. Semua terlihat samar, tak ada lagi asa. Aku terjebak dalam kabut tebal, berlari ke sana ke mari mencari arah dan tujuan. Perlahan aku bangkit, mulai kembali berjalan dengan kaki yang pincang. Katanya hidup tetap harus berlanjut, namun aku bangkit hanya untuk menunggu masaku tiba. Ingin berlari namun berjalan saja masih tertatih. Ruang yang selalu disinari cahaya matahari berubah menjadi ruang yang penuh kabut tebal, dingin dan tak terlihat. Begitulah kekelaman menenggelamkan jiwa ini. Pikiranku berisik, selalu berkutat dengan pertanyaan kemanakah aku mengadu dan kepada siapa aku bisa bercerita? Adakah yang kan mendengar jerita...