Beberapa hari yang lalu cuaca
sangat menakutkan, seakan-akan melahap semua yang ada di dalamnya. Tidak ada
ketenangan, hanya ada gemuruh angin yang akan menerbangkan semua yang tertancap
dan hentakan ombak yang siap memecahkan batu karang yang menghalanginya.
Herannya dia tidak takut sama sekali akan badai itu, terasa seperti
sehari-sehari, terbiasa. Atau mungkin badai itu tak sebanding dengan badai
dalam hidupnya.
Tiba-tiba cuaca berubah menjadi
tenang dan damai. Seakan hari kemarin hanya sebuah mimpi belaka. Cuaca malam
ini ditemani dengan kesendirian yang dihiasi oleh terangnya cahaya bulan yang
memantul di atas permukaan laut serta suara canda tawa dan percakapan kecil
mereka yang saling sahut menyahut satu sama lain. Dia menikmati malam itu dengan
lantunan lagu dan sebuah perenungan hidup yang tak pasti. Sekedar menenangkan
perasaan dan meneguhkan kembali beberapa prinsip yang mulai goyah oleh keadaan.
Perubahan cuaca ini mengingatkan
dia kembali tentang hari-hari yang berhasil dia lalui. Semesta menunjukkan
kepadanya bahwa hidup tak selalu terjadi sesuai keinginan manusia. Sama seperti
matahari yang tak bisa memilih tempat mana saja yang mau ia sinari atau oksigen
yang tak bisa menentukan manusia mana yang boleh menghirupnya. Semua terjadi sebagaimana
adanya dengan fungsi dan tujuan masing-masing.
Begitu juga dengan badai yang
datang dalam hidup, ia hadir untuk menguji dan mengingatkan manusia akan
waktu-waktu yang berharga. Kelak ketika badai itu berhasil terlewati, manusia
bisa lebih berbenah diri, menghargai dan mensyukuri semua hal yang ada. Tanpa
menambah ataupun mengurangi setiap elemen hidup.

Comments
Post a Comment